Suatu ketika hiduplah seorang tua yg bijak..

Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda yg sedang dirundung banyak masalah..

Dgn langkah gontai dan air muka yg ruwet.. pemuda itu bertamu ke rumah si pak tua itu..

Terlihat dari raut wajah si pemuda itu kesedihan yg mendalam..

Tanpa membuang waktu, pemuda itu menceritakan semua masalah2nya..

Sedangkan pak tua yg bijak itu hanya diam, tersenyum mendengarkan cerita sipemuda dengan seksama..

Tiba-tiba pak tua itu menyuruh pemuda itu mengambil salah satu gelas yg ada di meja depannya.

Kemudian pak tua itu mengambil segenggam garam.

Setelah berisi air, pak tua tadi menaburkan garam yg digenggamnya, lalu diaduknya perlahan….

“minumlah air itu.. dan katakana bagaimana rasanya..”

Ujar pak tua itu..

“pahit.. pahit.. pahit sekali..” jawab sipemuda sembari meludah..

Pak tua tersenyum kembali..

Kemudian ia mengajak pemuda itu berjalan2 ketepi telaga didalam hutan dekat rumahnya..

Kedua orang itu berjalan berdampingan,

Sampailah mereka ditepi telaga yg tenang itu..

Pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu..

Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang seperti mengaduk-aduk dan tercipta riak air… mengusik ketenangan telaga itu..

“coba,. Ambillah air dari telaga ini.. dan minumlah..”

Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi..

“bagaimana rasanya..??”

“segar…” sahut si pemuda..

“apakah kamu merasakan garam di dalam air itu..??” Tanya pak tua lagi..

“tidak..” jawab sipemuda.

Dengan bijak pak tua itu menepuk-2 bahu si pemuda..

“anak muda, dengarlah… Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam.. tak lebih dan tak kurang..”

“jumlah rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama..”

“Tetapi,.. kepahitan yg kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yg kita miliki..”

“Kepahitan,. Kemanisan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.. dan itu semua akan tergantung pada hati kita..”

“Jadi, saat kamu merasakan kepahitan, dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg bisa kamu lakukan..”

“Lapangkanlah dadamu dalam menerima semuanya.. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu..”

“Hatimu adalah wadahmu.. perasaanmu adalah kebahagiaanmu,, Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya..”

“Jadi… jangan jadikan hatimu seperti gelas yg kecil..”

“buatlah hatimu laksana telaga yg luas.. yg mampu meredam setiap kepahitan hidupmu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan di hidupmu..”

Keduanya lalu beranjak pulang.. mereka bersama-sama belajar hari itu,

Pak tua bijak itu kembali menyimpan sisa “garam” untuk pemuda yg lain yg suatu saat akan datang kepadanya dgn membawa keresahan jiwa…

Sumbangan : albabsholawat, 02 March 2011