SUNAN DRAJAT

1. Putra Sunan Ampel
Anggota Dewan Wali Sanga yang perlu diketahui juga adalah Sunan Drajat. Kata drajat berasal dari bahasa Arab yaitu darajat yang berarti kualitas tingkatan. Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Nama lainnya yaitu Syarifudin dan Raden Qosim. Beliau hidup pada zaman Majapahit akhir, sekitar tahun 1400 Çaka atau 1478 M (Efendy, 1987).
Sukendar (2001) menceritakan bahwa Sunan Drajat pada masa muda sudah diperintahkan oleh ayahnya mengajarkan Islam di pesisir Gresik. Sunan Drajat ditolong ikan talang ketika perahunya pecah dihantam badai. Di antara para wali, mungkin Sunan Drajat yang punya nama paling banyak. Semasa muda ia dikenal sebagai Raden Qosim atau Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuna. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifudin, Pangeran Kadrajat dan Masaikh Munar.
Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, alias Dewi Candrawati, Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.
Ada diceritakan, Raden Qosim menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita yang kelak berkembang menjadi legenda.
Syahdan, berlayarlah Raden Qosim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah di hantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qosim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang-ada juga yang menyebut ikan cakalang.
Dengan menunggang kedua ikan itu Raden Qosim berhasil mendarat disebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, peristiwa ini terjadi pada sekitar 1485 M. Di sana, Raden Qosim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.
Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qosim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qosim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.
Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qosim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat .

2. Menaklukan Makhluk Halus
Namun, Raden Qosim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker (Sukendar, 2001).
Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektar .
Atas petunjuk Sunan Giri, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh dibarat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk (Sukendar, 2001).

3. Dayung Perahu Gaib
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Dalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Ditempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat – termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong (Rahimsah, 2001).
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Bapang den simpangi, ana catur mungkur, demikian petuahnya. Maksudnya : jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu (Sukendar, 2001).
Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara pijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah (Sukendar, 2001).
Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewattembang pangkur dengan iringan gamelan. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam (Sukendar, 2001).
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah : Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marana kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan (Rahimsah, 2001).
Selain itu ajaran kesantunan dari Sunan Drajat sebagai berikut ini:
Wong urip kudu ngupaya boga. Tuking boga saka nyambut karya. Sregep makarya bisa gawe mulya tumraping kulawarga.
Tumrap wong sesomahan kudu amongsih, kulawarga kang apik lamun padha rukun lan darbe panjangka amrih rahayuning jagad.
Sing sapa seneng urip tetanggan kelebu janma linuwih. Tangga iku perlu dicedhaki nanging aja ditresnani.
Terjemahan :
Orang hidup harus mencari nafkah. Nafkah ada kalau bekerja. Rajin bekerja dapat membuat kemuliaan keluarga.
Orang berumah-tangga harus cinta-mencintai. Keluarga yang baik selalu rukun bersatu dan mencita-citakan kebahagiaan dunia.
Barang siapa suka hidup bertetangga itu tergolong manusia yang arif. Tetangga itu perlu didekati akan tetapi jangan dicintai.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang konon merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai shalat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan shalat Magrib .
“Berhentilah bekerja, jangan lupa shalat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Leng Sanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan. (Sukendar, 2001).

4. Candra Sekar Putri Kediri
Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening-yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Candra Sekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga (Sukendar, 2001).
Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 M. Menurut Babad Cirebon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qosim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.
Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini memang ada tradisi “saling memuridkan”. Dalam Babad Cirebon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qosim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifudin.
Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks pekuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.
Anak tertua bernama Pangeran Rekayasa, atau Pangeran Trenggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.
Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga Babadipun Para Wali mencatat : “Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga…” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qosim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah-pecah? Para ahli sejarah masih melacak naskah kuna untuk menjawabnya (Sukendar, 2001).
Pada masa akhir Majapahit itu terjadi krisis sosial ekonomi dan politik. Sunan Drajat menjadi juru bicara yang membela rakyat tertindas. Beliau mengecam tindakan elit politik waktu itu yang hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Dalam bidang sastra budaya beliau menciptakan:
1. Berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Demak
2. Membantu Raden Patah
3. Tembang Pangkur
Sunan Drajat menghendaki keselarasan lahir batin, jasmani rohani, dunia akhirat supaya hidupnya sejahtera. Hidup di dunia yang fana ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, yaitu untuk beramal saleh.

5. Ulama Besar dari Surabaya
Sudah sejak abad ke-11, kawasan delta Sungai Brantas merupa¬kan tlatah pusat bagi sejumlah trah penting. Kahuripan, yang kemudian disebut Koripan, ialah tlatah yang diperintah Raja Airlangga. Ia seorang raja Jawa kuno yang pemerintahannya banyak dikenal. Juga dongeng-dongeng Jawa-Bali banyak mengisahkannya. Dapat dipastikan, Airlangga dari Kahuripan berhubungan erat dengan Bali, melalui jalur pelayaran pesisir lewat Selat Madura.
Jenggala merupakan kraton yang diperintah oleh trah yang menurunkan Panji, seorang tokoh dongeng. Jenggala dan Kahuripan dapat dihubungkan. Di Delta Bran¬tas sebelah selatan, tempat posisi kraton-kraton itu, belum dapat ditunjukkan dengan pasti tempat sebuah kota kraton tua.
Jenggala dan Koripan dianggap sebagai tlatah Prabu Dandang Gendis, yang konon anak sulung dan pengganti Raja Genthayu dari Prambanan di Jawa Tengah. Raja Dandang Gendis ini mendapatkan putri dari Blora sebagai istri, ia menjadi raja para wong tapa ‘raja para pertapa’ dari jaman sebelum Islam. Dengan bantuan tiga orang raja pelosok, konon, ia memerangi dan mengalahkan raja para buruh di Jepara, Prabu Sandang Garba. Kelima pejabat tadi masih bersaudara. Kisah mengenai Genthayu dengan lima anaknya ini mirip kapitayan. Tidak dapat diteliti lagi sampai berapa jauh dalam kisah itu masih terjalin ingatan mengenai perbedaan lama di antara berbagai tlatah di tanah Jawa.
Nama kota Surabaya disebut dalam naskah-naskah Jawa dari abad ke-14. Menurut penulis Nagara Kertagama, raja Majapahit Hayam Wuruk berkunjung ke Surabaya, yang pada waktu itu dianggap sebagai Kotanegara Jenggala. Tempat penyeberangan di Surabaya adalah salah satu tempat tambangan yang disebut dalam “Piagam Tambangan” tahun 1358. Hal-hal itu menunjukkan bahwa Surabaya pada pertengahan abad ke-14 sudah menjadi Kotanegara dan pusat ekonomi yang berarti.
Akhirnya masih perlu disebutkan silsilah Harya Teja dari Tuban, yang terdapat dalam Sujarah Dalem. Raja Islam Harya Teja dari Tuban adalah mertua Raja Pandita dari Gresik dan Sunan Khatib dari Ngampel Denta, kakak beradik yang mendirikan umat Islam pertama di Gresik dan Sura¬baya, mungkin pada sekitar pertengahan abad ke-15. Harya Teja dari Tuban yang hidup pada abad ke-15 itu konon mempunyai kakek yang bernama Harya Lembu Sura dari Surabaya yang hidup pada abad ke-14.
Namanya, dipautkan dengan kata Lembu, menunjukkan turunan ningrat, bahkan trah raja. Sebab itu, Adipati Surabaya dari abad ke-14 ini tidak dapat disamakan dengan kakek “Pati Bobat”, kakek ini bukan trah ningrat atau seorang asing dari Barat. Tidak mustahil jika baru pada abad ke-14, baik di Tuban maupun Surabaya, kekuasaan dipegang oleh trah asing Muslim. Tidak mustahil pula telah terjadi hubungan pernikahan antara para cendekiawan Islam trah asing dengan keluarga-keluarga ningrat Jawa atau bahkan dengan wangsa raja-raja Majapahit.

6. Surabaya Pelabuhan Dagang Islam
Pada abad ke-15 dan 16, arti Kadipaten Surabaya adalah sebagai kota pelabuhan dan kota dagang. Adipatinya Gusti Pati, seorang prajurit tangguh, orang yang mempertahankan tlatah Islam terhadap serangan raja-raja tetangganya, terutama Adipati Blambangan yang menguasai ujung timur Jawa. Antara Surabaya dan kepala tlatah Majapahit, “Gusti Pati” yang mewakili kekuasaan kraton, terjadi ketegangan hubungan, namun ada juga masa-masa damai di antara mereka. Di samping keberaniannya, juga oleh orang Portugis yang sezaman dengannya, tanah miliknya yang luas, yang terletak di delta Sungai Brantas, yang merupakan sumber pendapatannya.
Yang aneh sekali ialah nama-nama yang dipakai oleh Adipati Sura¬baya. Raja tersebut diberi nama Pati Bubat. Pada abad ke-14 kota Bubat di tepi Sungai Brantas menjadi pelabuhan sungai bagi kota kraton Majapahit. Tempat tersebut cukup jauh dari Sura¬baya, lebih masuk ke pelosok dan lebih ke arah udik. Kiranya dapat dibayangkan bahwa, pada abad ke-15, “Sinuwun di Bu¬bat” menjadi gelar yang diberikan oleh Narendra Agung itu kepada yang menguasai tempat-tempat di tepi sungai di sebelah hilir pela¬buhan sungai Majapahit tersebut. Sangat mungkin baru pada jaman Sang Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, di Bubat dan di tempat-tempat pelabuhan pelosok lain, perkampungan buruh asing mempunyai posisi krusial dalam kehidupan ekonomi negara.
Nama kedua, bagi Adipati Surabaya, telah dianugerahkan sebagai nama kehormatan kepadanya oleh “Gusti Pati”. Hal itu menandakan bahwa mereka tidak selalu bermusuhan, dan bahwa patih Kraton Majapahit yang sangat berkuasa itu, dengan keramahan diplomatik, selalu berusaha agar para pejabat Islam di tlatah perbatasan tetap bersahabat. Nama itu, menurut ejaan Portugis ditulis Jurupa Galacam Jmteram. Namanya ialah: Surapati Ngalaga ing Terung. “Manggala Yuda ulung” dapat kita anggap sebagai penafsiran yang benar dari “Surapati Ngalaga.”
Apabila pada kata yang ketiga di atas tersembunyi nama kota Terung, maka nama Adipati Surabaya ini pada permulaan abad ke-16 dapat menguatkan apa yang diberitakan kisah Jawa mengenai peranan krusial pecat tandha, pejabat raja dalam bidang perdagangan, di Terung, di tepi Sungai Brantas, dalam pabaratan Islam Jawa Tengah melawan kota kraton lama Majapahit. Menurut kisah Jawa itu, pejabat di Terung ini masih saudara lain ayah dengan raja pertama di Demak Bintara, Raden Patah. Ibu mereka seorang wanita Cina dan mereka lahir di Palembang. pejabat di Terung, meskipun Islam, telah bertempur untuk mempertahankan Majapahit terhadap serangan para santri. Konon, ia yang membunuh Sunan Ngudung, ayah Kanjeng Sunan Kudus, dalam perkelahian satu lawan satu.
Perkiraan bahwa Adipati Surabaya, boleh dipandang sama dengan pejabat di Terung, sahabat Majapahit, yang pada 1525 berusaha menggagalkan serang¬an para santri Jawa Tengah terhadap Majapahit, bertambah nyata mengenai asal usul Pati Bubat, ia tidak berasal dari trah raja yang mulia, namun dari kalangan rendah, atau dari seorang asing yang datang dari Barat.
Tentang Kanjeng Sunan Ngampel Denta, wali ini diangkat sebagai imam di Masjid Surabaya oleh seorang pecat tandha di Terung, yang disebut Harya Sena. Nama Sena ini mungkin dihubungkan dengan gelar Senopati Ngalaga di Terung, dipakai oleh Adipati Surabaya pada permulaan abad ke-16. Oleh karena Raden Rahmat, yang kemudian bergelar Kanjeng Sunan Ngampel Denta, tinggal di Surabaya mulai pada perempat ketiga abad ke-15, maka Senopati Terung, yang bertindak sebagai pelindungnya, termasuk generasi yang lebih tua dari Pati Bubat. Bagaimanapun, sejarah mengenai wali menguat¬kan perkiraan bahwa pada sekitar 1500 M kedudukan di Sura¬baya, Terung, dan Bubat dipegang oleh satu orang pejabat yang beragama Islam, yang menganggap dirinya abdi Narendra Agung Majapahit.
Kekuasaan rohani kiranya dipegang oleh Kanjeng Sunan Ngampel Denta, wali di Surabaya, yang telah tua sekali. Menurut kisah tutur, ia meninggal tidak lama sebelum runtuhnya kraton Majapahit. Kanjeng Sunan Ngampel Denta banyak sekali anaknya. Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan banyak pemimpin jagad raya dan rohani di Jawa Timur dan Jawa Tengah melalui pernikahan-pernikahan, baik dia sendiri maupun anak-anak perempuannya. Sunan pertama di Giri dan raja pertama di Demak Bintara, Raden Patah, adalah menantunya. Kanjeng Sunan Bonang dari Tuban ialah anak sulungnya. Kanjeng Sunan Bonang, yang hidup membujang, beberapa waktu menggantikan beliau di Ngampel Denta.
Kanjeng Sunan Bonang adalah putra sulung Sunan Ampel. Kanjeng Sunan Drajat atau Syarifudin itu termasuk adiknya. Adik bungsunya yang bernama Dewi Sarah menikah dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Nama lain Kanjeng Sunan Bonang yaitu Raden Makdum atau Kanjeng Maulana Makdum Ibrahim.  1400 Çaka±Beliau juga hidup di sekitar jaman akhir kraton Majapahit  atau 1478 Masehi. Dalam bidang sastra Budaya beliau sumbangannya yaitu: membantu Raden Patah, ikut mendirikan Masjid Agung Demak Bintara, dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong dan kempul, Tembang macapat, Suluk Wujil. Kanjeng Sunan Bonang termasuk Wali Sanga yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Ajaran Kanjeng Sunan Bonang disampaikan dengan pesan-pesan simbolik yang harus ditafsirkan secara jernih.
Satu kenyataan ialah bahwa makam Kanjeng Sunan Ngampel Denta, yang disanjung-sanjung sebagai wali yang tertua di Jawa, tidak menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi orang pada abad-abad kemudian. Lagi pula makam tersebut tidak diberi cungkup seperti yang biasa ada pada makam orang penting. Dalam kisah Jawa dinyatakan bahwa hal itu memang menjadi kehendak Sunan sendiri. Tetapi hal itu juga dapat dianggap sebagai akibat kenyataan bahwa Kanjeng Sunan Ngampel tidak membentuk trah kyai, jadi tidak sama dengan Kanjeng Sunan Giri dan Kanjeng Sunan Gunung Jati. Dicantumkannya nama dia dalam Sujarah Dalem itu karena, menurut garis trah ibu, ia adalah moyang Kanjeng Sunan Kudus, yang trahnya masih bertalian keluarga de¬ngan wangsa Narendra Mataram Hadiningrat.
Para Adipati Surabaya, yang pada abad ke-16 dan ke-17 berperan penting dalam sejarah Jawa Timur, trah langsung Kanjeng Sunan Ngampel Denta, mempunyai hubungan keluarga lewat garis trah ibu.
Pati Bubat itu dapat disamakan dengan pejabat di Terung, maka pada paruh pertama abad ke-16 para pejabat Islam kota-kota Tuban dan Surabaya, sebagai kadipaten yang bersahabat dengan Narendra Agung Majapahit, seharusnya memperlihatkan sikap yang hampir sama. Menurut suatu kisah Jawa Tengah, mereka ngrabaseng yuda kota kraton kuno itu bersama-sama dengan raja-raja Islam lainnya, namun dalam kronik lama mengenai penaklukan tlatah yang dilakukan Demak Bintara pada jaman pemerintahan Kanjeng Sultan Trenggana, tahun 1527 tercatat sebagai tahun didudukinya Tuban, dan 1531 tercatat sebagai tahun duk nalikaning Adipati Surabaya mengakui kekuasaan Narendra Agung baru di Jawa Tengah yang sudah Muslim. Tidak dapat diteliti lagi apakah Sinuwun di Terung oleh Raja memang dipindahkan ke Semarang, seperti yang dikatakan dalam kisah tutur Jawa itu.
Pada paruh pertama abad ke-16 pun raja-raja tlatah inti kraton kuno Majapahit, di Jawa Timur dan di tlatah ujung timur Jawa, berusaha membangkang terhadap trah-trah baru di Jawa Tengah, yakni Trah Demak Bintara, Trah Pajang Hadiningrat, dan kemudian Trah IV Mataram Hadiningrat. Mengenai pengepungan kota Panarukan, menampilkan seorang pangeran dari Surabaya sebagai tokoh krusial yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kanjeng Sultan Trenggana dari Demak Bintara.
Mengenai kericuhan di Demak Bintara sesudah meninggalnya Kanjeng Sultan Trenggana dengan pemberitahuan bahwa Pati Sudayo dari Surabaya dipilih sebagai raja oleh sidang raja-raja. Sanajan mekaten kisah tutur Jawa tidak memberitakan prastawa ini, mungkin saja ada Adipati Jawa Timur yang mencoba mencari keuntungan politik dari kekacauan di Kotanegara kraton Islam di Jawa Tengah yang baru saja dibenahi itu. Dalam Sujarah Surabaya terdapat daftar pendek para pejabat Surabaya, yang mencantumkan nama Sunjaya.
Sesudah mengalahkan Harya Penangsang dari Jipang pada 1549, Sultan Pajang Hadiningrat di pelosok, ma¬sih kerabat wangsa Sultan Demak Bintara, mencoba memulihkan kembali kraton Jawa Tengah. Tampaknya ini sebagian sudah dicapainya me-lalui ekspedisi keprajuritan dan dengan diplomasi damai. Babad Ja¬wa memberitakan tahun-tahun 1548 sampai 1577 sebagai masa perjuangan untuk menundukkan Kediri. Adanya pabaratan pada 1577 dan 1578 untuk menundukkan Menang dan Wirasaba. Tlatah Wirasaba terletak di tlatah aliran Sungai Brantas seperti Kediri, semula termasuk tlatah pengaruh para pejabat Surabaya. Rupanya, Sultan Pajang Hadiningrat sedang berusaha menanam kekuasaan di tanah pelosok Jawa Timur, sepanjang Su¬ngai Brantas.

7. Dakwah di Kota Metropolis
Kemajuan ngelar jajahan Jawa Tengah ke arah timur, yang dipimpin oleh Kanjeng Sultan Pajang Hadiningrat, mungkin juga masih dapat dikait-kaitkan dengan dua kisah lain, sehubungan dengan berbagai prastawa pada 1570-1580. Para pejabat di Surabaya, Gresik, Sidayu, Tuban, dan Pasuruan dan para pejabat di Wirasaba, Ponorogo, Kediri, Madiun, Blora, dan Jipang menyatakan diri “bebas” dari Raja Madura, dengan demi-kian mereka dapat mengakui Panji Wiryakrama, Adipati Suraba¬ya, sebagai atasan mereka bersama. Adipati Surabaya ini bertindak sebagai wahana “juru bicara” mereka terhadap Sultan Pajang Hadiningrat. Hal itu terjadi pada waktu Santa Guna, raja di Blambangan, di ujung timur Jawa, menduduki Panarukan.
Tentang sejarah ujung timur Jawa ini dalam paruh kedua abad ke-16 ada beberapa hal yang sudah kita ketahui. Ada kemungkinan, raja-raja Islam di Jawa Timur merasa terancam oleh makin meningkatnya kekuasaan kean di ujung timur Jawa, oleh karena itu, mereka bersatu di bawah pimpinan Adipati Surabaya yang tlatah-nya mungkin berada paling dekat dengan ancaman bahaya. Pada permulaan abad ke-16 Pati Bubat” dari Sura¬baya sudah sering terlibat dalam pabaratan melawan Adipati Blambangan yang sangat berkuasa itu. Juga dapat dimengerti jika raja-raja Islam di Jawa Timur dan di tlatah pesisir lalu menjalin hubungan dengan Sultan Pajang Hadiningrat yang dianggap sebagai pengganti Kanjeng Sultan Demak Bintara yang sah.
Di Madura, yakni di bagian barat pulau, di Sampang dan Aros Baya, yang memerintah dalam perempat ketiga abad ke-16 ialah seorang raja yang bernama Kiai Pratana atau Kanjeng Panembahan Lemah Duwur. Konon, ia anak pejabat Islam pertama di Gili Mandangin/Sampang. Menurut Sujarah Dalem, Kanjeng Panembahan Lemah Duwur telah memperistri putri Pajang Hadiningrat, jadi tidak bermusuhan dengan Pajang Hadiningrat. Tidak ada satu pun kisah Jawa atau Madura yang me-nunjukkan bahwa Raja Madura pernah berkuasa di Jawa Timur dan tlatah pesisir.
Pertemuan para Adipati Jawa Timur di Giri pada 1581. Pada waktu itu Kanjeng Sunan Prapen yang berusia lanjut meresmikan pengangkatan Sultan Pajang Hadiningrat yang juga tidak muda lagi agar diakui raja-raja lain. Hal itu harus ditafsirkan dengan latar belakang yang sama, yakni konsolidasi kekuasaan raja-raja Islam karena adanya bahaya serangan yang mengancam lewat darat atau laut, dari pihak raja-raja di kawasan timur.
Trah terakhir dari Trah Demak Bintara dan Pajang Hadiningrat tidak dapat bertahan menghadapi berkobarnya semangat ngelar jajahan Kraton Ma-taram di pelosok yang masih muda itu. Waktu Kanjeng Sultan Pajang Hadiningrat wafat pada 1589, Senopati di Mataram Hadiningrat cepat-cepat mulai bertindak agar kekuasaannya diakui oleh raja-raja di Jawa Timur, yang sebe-lumnya sudah mengakui sultan-sultan di Demak Bintara dan Pajang Hadiningrat sebagai pejabat tertinggi. upaya perluasan kekuasaan raja baru di pelosok Jawa Tengah ini terbentur pada perlawanan para pejabat Jawa Timur dan tlatah pesisir. Perlawanan ini lebih dari yang di-hadapi Sultan Pajang Hadiningrat kira-kira seperempat abad sebelumnya. Boleh diduga pada perempat terakhir abad ke-16 kebudayaan Islam pesisir, selama hampir serarus tahun ngrembaka atas dasar pola kebudayaan Majapahit. Meskipun terletak di pelosok, karena adanya perhubungan baik lewat Bengawan Solo maupun jalan-jalan darat, sudah sejak abad ke-15 Pengging dan Pajang Hadiningrat ikut serta dalam gerakan sosial politik baik di Jawa Timur maupun di tlatah pesisir sebelah timur laut. Karena Mataram Hadiningrat hanya dapat menggunakan perhubungan darat dengan Pajang Hadiningrat dan Jawa Barat, pada abad ke-15 dan masih juga dalam paruh pertama abad 16, oleh Adipati Jawa Timur, Mataram Hadiningrat dianggap sebagai tlatah terbelakang yang berkebudayaan kasar. Sebagian Adipati Jawa Timur itu trah buruh Islam yang sudah maju kebudayaannya dan berasal dari negeri asing.
Menurut kisah Jawa Tengah, boleh dikatakan tidak lama sesudah meninggalnya Kanjeng Sultan Pajang Hadiningrat, Senopati dari Mataram Hadiningrat berusaha agar kekuasaannya diakui di Jawa Timur. Pasukan Kanjeng Kanjeng Panembahan Senopati di dekat Japan telah dibendung oleh tenaga gabungan sejumlah besar Adipati Jawa Timur. Gabung-an itu terdiri dari: tlatah pesisir, yakni Tuban, Sidayu, Lamongan, dan Gresik, tlatah-tlatah pelosok yakni Lumajang, Kertosono, Malang, Pasuruan, Kediri, Wirasaba, dan Blitar, selain itu ma-sih ada lagi Pringgabaya, Pragunan, Lasem, Madura, Sumenep, dan Pakacangan. Mereka dikerahkan oleh panggede ‘pemimpin’ mereka, yakni pangeran Surabaya, untuk melawan kehendak Senopati. Pada kesempatan itulah Kanjeng Sunan Giri mendamaikan Mataram Hadiningrat dan Sura¬baya, dengan menyuruh kedua raja itu memilih antara “bungkus” dan “isi”. Kemudian kedua pejabat itu berpisah dengan damai. Tanpa mempersoalkan sampai berapa jauh Kanjeng Sunan Giri itu betul-betul bertindak sebagai penengah pada saat-saat gentingnya ancaman perang, dapat diperkirakan bahwa percobaan pertama Narendra Mataram Hadiningrat untuk mendapat pengakuan di Jawa Timur sebagai Narendra Agung itu ternyata gagal. Ia ditolak serentak oleh sejumlah besar pejabat setempat yang dipimpin pangeran Surabaya.
Nama Adipati Surabaya, yang konon kekuasaannya pada perem-pat terakhir abad ke-16 di Jawa Timur dan Madura cukup besar untuk menggerakkan sejumlah besar pejabat setempat supaya bekerja sama melawan Mataram Hadiningrat, tidak disebutkan dalam naskah-naskah sejarah Jawa Tengah abad ke-18. Dalam Sujarah Dalem terdapat nama Kanjeng Panembahan Ratu Jayalengkara dari Surabaya sebagai nama ayah Pangeran Pekik. Jadi, mungkin Kanjeng Panembahan Jayalengkara itulah yang pada 1589 menjadi lawan Senopati Mataram Hadiningrat. Pada 1625 – pada akhir hayatnya – ia dikalahkan dan diturunkan dari takhta oleh cucu Senopati, Kanjeng Sultan Agung.
Tidak ada informasi yang meyakinkan bahwa Pangeran Pekik dari Surabaya dan ayahnya Jayalengkara mungkin juga Panji Wiryakrama trah langsung Adipati Terung atau Pati Bubat dari jaman awal abad ke-16. Agaknya ia dipindahkan ke Semarang. Trah Jayalengkara benar-benar menurut garis langsung meru-pakan trah Kanjeng Sunan Ngampel.
Kanjeng Panembahan Jayalengkara sebagai raja merdeka Surabaya yang terakhir, terus gigih ber-juang seumur hidupnya melawan ngelar jajahan ke arah timur oleh raja-raja Mataram Hadiningrat. Menurut Sujarah Dalem, permaisurinya ialah seorang putri dari Kediri, dan ia masih kerabat wangsa raja di Madiun yang asal usulnya adalah Kanjeng Sultan Demak Bintara. Berdasarkan hubungan trah, tidak ada alasan yang mendorongnya untuk bersikap baik terhadap para penyerbu dari Mataram Hadiningrat. Dalam bidang ekonomi dan sosial terdapat jurang yang dalam antara Mataram Hadiningrat di pelosok yang masih rendah kebudayaannya dan tlatah-tlatah Jawa Timur yang telah maju. Jawa Timur telah mempunyai kota-kota pelabuhan yang gemah ripah loh jinawi. Kebudayaannya ngrembaka dengan adanya perdagangan laut dan pergaulan dengan orang asing.
Nama Jayalengkara beberapa kali disebut dalam sastra Jawa. Menurut naskah-naskah kisah abad ke-17 atau 18, moyang yang menurunkan raja-raja di Jenggala di delta Sungai Brantas adalah Inu Kertapati yang sangat tersohor, yang juga bernama Jayaleng¬kara. Konon, ia mula-mula memerintah di tanah asalnya di alam maya, Medang Kamulan.
Salah satu dari naskah hukum abad ke-16 atau 17, yang dapat dibandingkan dengan kitab Salokantara yang dianggap karangan Senopati Jimbun dari Demak Bintara, menyebut Raja Jayalengkara dari Medang Kamulan sebagai pengarangnya. Akhirnya ada sajak romantis-didaktis yang panjang, Jaya Leng-kara, yang dikenal dalam berbagai versi. Yang dianggap sebagai pengarangnya ialah Pangeran Pekik dari Surabaya, dan nama Sura¬baya sering disebut di dalamnya.
Pawarta mengenai nama Jayalengkara dalam sastra Jawa itu mudah menimbulkan perkiraan bahwa kraton Surabaya pada paruh kedua abad ke-16 dan juga pada abad ke-17 merupakan pusat kebudayaan pesisir. Nama Pangeran Pekik sering disebut dalam kisah-kisah tutur Jawa Tengah yang dihubungkan dengan kemajuan sastra pada abad 19. Dapat diperkirakan bahwa naskah hukum Jaya Lengkara boleh dianggap hasil karya Adipati Surabaya yang hidup pada abad ke-16. Begitu pula halnya dengan Salokantara yang dianggap hasil karya Sultan Demak Bintara, Senopati Jimbun.
Pa¬ngeran Pekik dari Surabaya dianggap sebagai penulis atau pemberi ilham berbagai sastra romantis, antara lain Damarwulan. Buku itu kawentar di seluruh Jawa dalam banyak versi dengan berbagai perluasan dan penambahan yang terjadi kemudian. Kisah itu, sebagian khayalan, adalah mengenai wangsa raja Majapahit yang sudah bedah satu abad sebelum penulisnya lahir. Sebagian besar kisah itu meliputi rananggana antara raja-raja Majapahit dan Adipati Blambangan. Perang yang pada abad ke-16 terpaksa dilakukan oleh Adipati Surabaya melawan para pejabat di Blambangan, dicerminkan dalam kisah sejarah Damar¬wulan ini.
Seandainya dapat kita terima bahwa Jayalengkara memang nama seorang raja penting di Surabaya, ayah Pangeran Pekik pada permulaan abad 17, maka hubungan antara nama itu dan tokoh Panji dalam kapitayan perlu mendapat perhatian. Raja Jayalengkara dari Surabaya beristrikan seorang putri Kediri, sama halnya dengan tokoh sejarah Panji Inu Kertapati dari Jenggala. Seorang moyang Panji Inu bernama Jayalengkara juga. pejabat Surabaya, yang pada pertengahan abad ke-16 bertindak sebagai “juru bicara” Adipati Jawa Timur dalam menghadapi Sultan Pajang Hadiningrat, memakai nama Panji Wiryakrarna – sebagai gelar keningratan kuno yang sudah dikenal sejak sebelum jaman Islam itu, masih dipakai antara lain di pelosok Jawa Timur seperti Malang. Hubungan antara nama-nama Jaya¬lengkara dan Panji itu menguatkan keyakinan bahwa – seperti hal¬nya Damarwulan – apa yang biasa disebut kisah Panji yang romantis itu pun sebagian besar ngrembaka di Jawa Timur. Hal itu karena pengaruh Kraton Surabaya.
Kisah Panji telah dikenal baik di tlatah-tlatah pesisir Bali, Jawa, dan Sumatera, tempat kebudayaan pesisir mendapat sambutan baik pada abad ke-16 dan 17. Kisah-kisah itu lebih dikenal dari-pada Damarwulan. Palembang adalah salah satu tempat di seberang yang sangat dipengaruhi kebudayaan pesisir Jawa Timur. Menurut kisah setempat, seseorang dari Surabaya, bernama Ki Ageng Sura, dalam perempat terakhir abad ke-16 memegang pemerintahan di Palembang. Masa pemerintahan dalam sejarah Palembang ini dengan tepat bersambung dengan masa-masa pemerintahan raja-raja sebelumnya, yang semuanya sedikit banyak berhubungan baik dengan raja-raja di Jawa Timur sebelum jaman Islam.

Konon, pada masa tuanya, Senopati Mataram Hadiningrat tidak lagi berusaha menguasai Surabaya. Adipati Surabaya pada dasawarsa terakhir abad ke-16 sempat memadukan tlatah yang diperintahnya. Pada 1599 syahbandar di Gresik dan wakil syahbandar di Jaratan diangkat oleh Adipati Surabaya. Sekitar tahun 1600 perdagangan dan pelayaran di Gresik/Jaratan lebih krusial daripada di Surabaya. Tidak ada kabar atau kisah mengenai sikap permusuhan antara Adipati Surabaya dan kyai di Giri, yang selama sebagian terbesar abad ke-16 berkuasa di Gresik. Jadi, dapat diperkirakan bahwa Kanjeng Sunan Prapen yang sudah sangat lanjut usianya itu membiarkan dirinya dilindungi oleh Adipati Surabaya dalam bidang pemerintahan.
Raja yang memerintah Surabaya buta. Tetapi, dapat diperkirakan bahwa ia masih mengalami pendudukan kotanya oleh pasukan Mataram Hadiningrat pada 1625. Adipati Surabaya yang telah dikalahkan itu, yakni ayah Pangeran Pekik, meninggal pada 1630, dan dimakamkan di Ngampel Denta, yang menjadi tempat tinggalnya karena istananya sudah dihancurkan.
Adipati Surabaya dari paruh kedua abad ke-16 itu menurut garis langsung termasuk trah wali di Ngampel Denta yang hidup pada permulaan abad itu. Adipati Surabaya menganggap dirinya masih bertalian keluarga dengan Kanjeng Sunan Ngampel Denta, karena pernikahan.
Sesudah pada tahun-tahun sebelumnya Surabaya berkali-kali diserang, pada 1625 Surabaya pasrah bongkokan kalah kepada Manggala Yuda wadyabala Mataram Hadiningrat tanpa menunggu serangan terakhir lagi, dan setelah menjadi amat lemah oleh kelaparan dan penyakit. Mengingat hal itu, trah raja mendapat pengampunan dari pihak pemenang, Kanjeng Sultan Agung. Pangeran Pekik, yang kemudian menjadi ipar Kanjeng Sultan Agung.

8. Masih Munat
Sunan Drajat adalah salah seorang putra Sunan Ampel. Sebelum bergelar Sunan Drajat ia bernama Masih Munat (C. Israr, 1978:159). Menurur keterangan yang diperoleh dari juru kunci makam, Sunan Drajat menyebarkan agama Islam dari pesantrennya yang terdapat di daerah Drajat, oleh karena itu ia memperoleh gelar sebagai Sunan Drajat. Diceritakan pula bahwa Sunan Drajat mendirikan sebuah Masjid yang terletak di sebelah timur kompleks makam. Saat ini masjid tersebut hanya merupakan segundukan batu yang ditumbuhi semak belukar.
Kompleks Makam Sunan Drajat terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Propinsi Jawa Timur. Kompleks ini disebutkan pertama kali oleh J. Knebel pada tahun 1907 (J. Knebel, 1980:261-262). Kemudian disebutkan pula dalam laporan seorang pengawas bangunan mengenai sebuah peninggalan kepurbakalaan yang terdapat di Drajat, sebelah timur Sendang Duwur (Stutterheim, 1940:10). Kompleks ini dipugar untuk pertama kali pada awal tahun 1941 (Stutterheim, 1949:39).
Kompleks Sunan Drajat terdiri dari tiga teras. Pada teras ketiga yang terletak paling belakang dan paling tinggi terdapat cungkup makam Sunan Drajat. Cungkup tersebut merupakan sebuah bangunan tembok. Bagian dalam cungkup terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah dan belakang.

Pada bagian depan terdapat makam-makam para kerabat Sunan Drajat. Antara bagian depan dan tengah terdapat sebuah sekat yang terbuat dari kayu. Pada bagian tengah terdapat enam buah makam, yaitu tiga makam putra Sunan Drajat dan tiga makam menantunya. Pada bagian belakang terdapat sebuah cungkup yang terbuat dari kayu. Di dalam Cungkup ini terdapat makam Sunan Drajat dan isterinya.

1. Makam
Sebagian besar ragam hias pada makam di dalam cungkup sederhana, baik dalam bentuk maupun hiasan. Nisan pada makam-makam tersebut berbentuk kurawal yang sebagian besar polos. Beberapa nisan misalnya yang terdapat pada makam isteri dan putra Sunan Drajat, mempunyai ragam hias medallion dan roset. Medalion yang terdapat pada nisan putra Sunan Drajat, bagian tengahnya dihiasi dengan tulisan dalam bentuk Arab, sedang yang terdapat pada nisan isteri Sunan Drajat tanpa hiasan. Nisan Sunan Drajat sendiri berbentuk kurawal dan polos. Jirat pada makam-makam tersebut sebagian besar bertingkat tiga. Pada sisi-sisi dan sudut jirat terdapat hiasan tumpal.

2. Dinding penyekat
Dinding penyekat yang terbuat dari kayu terbagi dalam panel-panel berbentuk segi empat. Di tengah-tengah terdapat sebuah pintu. Dinding di sisi kiri dan kanan pintu tersebut masing-masing terbagi menjadi enam buah panel, yaitu tiga di bagian atas dan tiga di bagian bawah. Ragam hias pada panel-panel di debelah kiri sama dengan panel-panel di sebelah kanan. Lima di antaranya merupakan ukiran kerrawang dengan motif tumbuh-tumbuhan, sedangkan yang sebuah mempunyai hiasan sayap, gunung dan tumbuh-tumbuhan. Pada ambang pintu terdapat dua buah arca singa yang distilir dengan motif sulur-sul;uran. Ambang pintu bagian bawah dihiasi dengan motif pinggir awan, sedangkan pintu tidak berhias.

3. Dinding cungkup kayu
Dinding cungkup kayu bagian depan juga terbagi menjadi panel-panel segi empat dan masing-masing mempunyai hiasan. DInding sisi kiri, kanan dan belakang tidak berhias. Pada panel-panel di dinding depan terdapat ragam hias berupa bingkai cermin yan diisi dengan motif pemandangan, bunga teratai dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Di luar bingkai cermin tersebut, sebagai pengisi bidang digunakan motif pinggir awan dan tumbuh-tumbuhan. Pada pintu masuj cungkup terdapat dua buah arca singa yang distilir. Kedua arca singa tersebut telah rusak. Daun pintu mempunyai ukiran dengan motif tumbuh-tumbuhan, pinggir awan dan di bagian tengah terdapat motif sayap. Pada ambang pintu bagian atas terdapat sebuah sengakalan yang dibaca oleh Stutterheim sebagai mulya guna panca waktu atau 153 Çaka : 1609 Masehi (Stutterheim, 1949:39). Menurut pembacaan Knebel sengkalan tersebut berbunyi leng pinrapat ginawe jalma atau 1449 Çaka : 1527 Masehi (J. Knebel, 1908 : 262).

Selain pada ambang pintu cungkup tersebut, terdapat pula sebuah sengkalan pada dinding barat cungkup batu. Sengkalan itu berupa pahatan yang menggambarkan gelombang dan di sudut kanan atas terdapat sebuah anak panah. Stutterheim membaca sengkalan tersebut sebagai segara pinanah ing …… atau 454? : 1454 Çaka : 1532 Masehi (Stutterheim, 1949 : 39). Knebel membacanya sebagai segara mumbul pinanah tunggil atau 1504 Çaka : 1582 Masehi (J. Knebel, 1908 : 262). Dari pengamatan terhadap ragam hias yang terdapat pada kompleks makam Sunan Drajat, ternyata dijumpai beberapa jenis ragam hias, yaitu ragam hias geometris, tumbuh-tumbuhan, binatang dan ragam hias lainnya.

Ragam hias geometris
Ragam hias geometris berupa pinggir awan, tumpal dan medallion. Motif pinggir awan asalnya adalah dari motif pinggir meander yang banyak dijumpai dalam kesenian Cina. Motif pinggir awan banyak digunakan pada kesenian Cirebon dan biasanya dipakai untuk menyatakan awan (Van der Hoop, 1949 : 56). Pada kompleks makam Sunan Drajat, motif pinggir awan dijumpai pada bingkai-bingkai di bawah maupun di atas panel, sehingga kemungkinan motif ini berfungsi sebagai pengisi bidang.
Motif tumpal dan medallion yang terdapat pada beberapa jirat dan nisan kemungkinan juga berfungsi sebagai pengisi bidang. Motif tumpal telah dikenal sejak jaman prasejarah, misalnya yang digunakan sebagai hiasan pada nekara-nekara dan gerabah (Van der Hoop, 1949 : 24). Selanjutnya motif ini banyak dijumpai pada masa kebudayaan Hindu, Islam dan bahkan masih digunakan sampai sekarang.

Ragam Hias Tumbuh-Tumbuhan
Ragam hias tumguh-tumbuhan mulai muncul pada masa kebudayaan Hindu. Dari sejumlah motif tumbuh-tumbuhan yang terdapat di kompleks makam ini, yang dapat dikenali adalah bunga teratai. Menurut Van der Hoop, bunga teratai terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1. Teratai merah atau nelumbium speciosum, dengan ciri-ciri daun bunganya lebar dan tepi daun bergelombang.
2. Teratai biru atau nymphaes stellata, yaitu daun bungannya tidak lebar, bunga tidak pernah digambarkan terbuka sama sekali, tepi daunnya tidak bergelombang atau sedikit bergelombang.
3. Teratai putih atau nymphaea lotos, dengan cirri-ciri daun bunga lebar tetapi runcing-runcing dan tepi daun tidak bergelombang (Van der Hoop, 1949 : 258).
Motif bunga teratai yang terdapat di kompleks makam SunanDrajat adalah bunga teratai merah, karena daun bunganya lebar serta tepi daunnya bergelombang.

Ragam Hias Binatang
Ragam hias binatang yang terdapat di kompleks makam Sunan Drajat adalah singa. Singa atau felis leo adalah jenis binatang yang tidak terdapat di pulau Jawa (S. Kadarsan, et. al., 1977 : 6). Motif singa mulai dikenal bersamaan dengan masuknya kebudayaan Hindu. Pada kesenian Hindu di Jawa, motif Singa merupakan symbol dari aspek baik atau sebagai penjaga dari pengaruh-pengaruh jahat (Timbul Haryono, 1980 : 49). Pada beberapa kekunaan Islam yang berupa kompleks makam, terutama yang terdapat di daerah pantai utara, singa biasanya dijumpai pada ambang pintu cungkup. Kemungkinan motif singa pada kekunaan Islam berfungsi sebagai symbol penjaga yang melindungi kompleks makam dari pengaruh-pengaruh jahat.

Selain motif singa, dijumpai pula motif sayap. Motif Sayap sebenarnya dapat dikaitkan sengan motif burung. Burung sudah dikenal sejak jaman prasejarah dan biasanya digunakan untuk melambangkan roh orang yang telah meninggal (Van der Hoop, 1949 : 166). Motif sayap sering dikaitkan dengan pelepasan. Motif sayap yang terdapat di kompleks makam Sunan Drajat kemungkinan digunakan sebagai lambing pelepasan jiwa dan raga.

Ragam Hias Lain
Ragam hias lain yang terdapat di kompleks makam Sunan Drajat adalah pemandangan dan bingkai cermin. Motif pemandangan dijumpai dalam kesenian Hindu maupun Islam. Pemandangan yang terdapat pada dinding cungkup makam Sunan Drajat melukiskan gunung-gunung dan tumbuh-tumbuhan. Gunung sendiri pada masa kebudayaan pra Islam dianggap sebagai tempat bersemayam para dewa ataupun roh-roh.
Selain itu banyak ditemui bingkai cermin pada panel-panel kayu. Yang dimaksud dengan bingkai cermin adalah bentuk segi empat yang salah satu atau kedua sisinya berbentuk kurawal (Van der Hoop, 1949 : 314). Biasanya bingkai cermin ini tidak berdiri sendiri, melainkan berfungsi sebagai bingkai bagi motif-motif lainnya. Bagian tengah bingkai cermin ini diisi dengan motif tumbuh-tumbuhan, sulur-suluran dan lain-lain.

Sumbangan: albabsholawat, 02 March 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers